Sajak Bumi Menanti Para Peminang Maut

Posted: Thursday, September 18, 2008 | Ditulis oleh saha | Labels:

Wajahnya lunglai penuh kisut garis-garis muka yang menua. Lamunannya terbang bersama seekor ‘garuda’ yang ranum bulu sutera di tubuhnya. Sesekali terlihat ia terbenam dalam pelukan jari-jari kekar—telapak kumal penuh daki dan parutan resah-ruah sekujur badan. Rautnya perlahan mendung pertanda gerimis air mata tak sanggup lagi ia bendung. Mulutnya komat-kamit, membisikan sajak ke semesta jagad ini.

Duhai Tuan,
Aku tersedak menikmati maknaMu
Musibah kutukan buru-buru kutelan
Aku dikejar waktu

Begitu banyak rupaMu di tubuh tuaku
Elok—menyaru batu-batu sapphire
Begitu berat beban yang tlah terpaku
Elok—menyaruk dalam pahit getir

Matanya terbuka, tajam serupa matahari tapi matahatinya tetap sayu. Dengan lembut ia hapus gerimis di mata sebelum menjadi badai. Tak ada benci dalam hatinya, apalagi dendam. Hanya kecewa karena tak kuasa. Terdengar lagi, setengah berbisik kali ini, sajak yang menjadi persaksiannya.

Duhai Tuan,
Kulahirkan putera-puteri yang meminang maut
Untuk menyemai ‘budi dan pekerti’

Tapi Tuan,
Kulahirkan pula mereka yang menyanggah maut
Untuk memupuk ‘tamak dan benci’

Kembali lamunan mengawang seatas awan, tersenyum ia pada ‘garuda’ yang terlanjur menjadi berhala di salah satu belahan tubuhnya. Tak bersedih lagi, ia muntahkan satu persatu: musibah, kutukan, derita, amarah, dan benci yang ditelannya bulat-bulat. Lalu diambilnya sepiring do’a, sajak, dan segelas air pelepas dahaga dari muara dzikir. Dikunyah sampai lembut sampai tak tersisa satu remah pun. Ia tahu, tahu benar bahwa tubuhnya sedang mengandung beribu bahkan berjuta para peminang maut. Sambil bersendawa ia mengucap sajak lagi.

Anakku, kutunggu engkau
Kafani tubuh tuaku saat kau lahir nanti


=============================
Sajak yang kutulis untuk S.M Kartosoewiryo

wizurai,

 
Mau belajar online php dan mysql untuk bikin web? Gabung aja di sini, ada kelas gratis buat sobat