Di sini. Kami menyambut kuncup bunga fajar di balik awan abu. Membakar lereng-lereng hitam gunung menjadi merah keemasan. Di sini--di balik kaca kumal dengan aroma embun menusuk paru, dengan geliat angin menyusup di antara lipatan baju dan kulit-kulit lembab : kami saling memeluk.
Di sini. Dalam keremangan kamar sempit 3x3 meter--hanya cukup buat kami berbaring dan menyisakan sedikit ruang hampa untuk menidurkan mimpi yang terkejap-kejap dalam rerongga dada. Do'a-do'a yang kami gantung di atas atap, berubah menjadi benih bunga yang harus kami tanam di halaman rumah : kami masih saling memeluk.
Di sana. Di balik jendela yang lain. Bau rumput dan bukit-bukit bergelombang. Naikturun bersama gerai daun pohon aras di antara pagi dan malam. di lereng bukit tempat kami melahirkan banyak bunga ungu--yang benihnya kami beli dengan seribu leluka. Lalu kami tanam dengan segenggam tanah harum dari negeri seberang : Sebuah negeri yang banyak ditumbuhi jembatan kayu antara langit dan bumi, di mana air hujannya adalah perhiasan lalu mengalir ke hilir seperti batu intan meleleh.
Di sana. Di halaman rumah kami yang berbukit-bukit. kami merangkak setiap pagi menuju lereng berbatu. Mengubur do'a-do'a yang telah menjadi benih. Benih bunga ungu serupa anyelir. Kami tak mampu melahirkan banyak bunga warnawarni. Tanah kami tanah kering tapi tak sekering negerimu : sebuah negeri dengan bukit-bukit pasir, di mana matahari menatap dengan sorot mata yang sangat tajam.
Wahai engkau, lelaki dengan tanda bulu burung Na'amah di dada. Kami persembahkankan setangkai bunga ungu setiap pagi untuk menemanimu di negeri para bidadari. Dengan segala kesederhanaan dan rahim yang penuh leluka : kami saling memeluk dan merindu sosok dirimu sebagai pemimpin para syuhada.
Untukmu Hamzah.
wizurai,
Selembar samak rumput kami hampar
tempat kami dirunduk lagi tergelepar
selembar kain beluderu kami bentang
tempat kau telanjang lagi terlentang
:mari saling berbuka aurat
Kami usap dadamu dengan beribu rasa cemas
di sana tertulis kemegahan dengan tinta emas
dan rabalah dada kami tanpa kau remas
di sana tertulis harap dengan segala jejas
:mari saling membaca di dada
Kau baca punya kami tanpa hayat
kami baca punyamu dengan ma'rifat
Wizurai,
Pasukan Syahwat Pulang Perang (sajak 'perang' 2)
Posted by wizurai | 2:08 PM | Puisi (Berhala) | 0 comments »Baca sajak sebelumnya Pasukan Syahwat Siap Tempur
Tubuh-tubuh perempuan inilah medan perang
Tempat kami beringas, berdengus dan mengerang
Perang usai saat subuh, setelah bunyi bedug kedua ditabuh
Pertempuran sengit rasanya sampai selangit
Yang mati diarak mimpi, yang hidup berapi-api
Kami prajurit ada yang peduli, tapi tak sedikit tertawa geli
“Loh memangnya siapa yang mati?”
“Panglima kami, IMAN!”
Wizurai,
Pasukan Syahwat Siap Tempur (sajak 'perang' 1)
Posted by wizurai | 2:06 PM | Puisi (Berhala) | 0 comments »(Malam kelap-kelip remang-remang)
Gelung-gelung bambu
Tempat kami bersandar
Menikmati toboh, tabuh dan tubuh
:Hura-hura!
Cinta-cinta tabu
Tempat kami berbingar
Menikmati angin, ingin, dan angan
:hura-hara!
di sini,
tak perlu takut hidup jadi berkarat
paling kotoran dalam daging−sekerat
ada kapas, anggap saja antelas
ada mimpi, di sini banyak serimpi
APA LAGI?
“kami siap tempur!”
(Yang binal datang menggempur, pasukan syahwat pantang mundur, meninggalkan barak penuh berak, membawa nadi penuh noda, gagah berani tentunya tanpa nurani)
SERBUUUU!!
Wizurai,
Tuan kerbau
istirahatlah!
berhenti mengukur pulau
apa tak pernah merasa lelah?
Tuan kerbau
bernyanyilah!
hibur hati yang sedang galau
apa tak pernah merasa gundah?
Tuan kerbau
mari berteduh dalam dangau
menyelami kidung-kidung mantera
atau nikmati hidangan penuh selera
Sementara kau membajak
kami membajak sajak;
Wizurai,
Sepasang mata burung awasi kami dari gunung
Sesaat lenyap melekat pada kulit-kulit kayu yang murung
:langit berubah warna
Warna api dan asap-asap mimpi
Sepasang batu kali dari mata air kami jadikan kalung
sesaat bening terkena air mata penjaga hutan yang mati bertarung
:tanah berubah dingin
Dingin kabut dan matras-matras butut
Malam ini kami berbicara
Melingkar membakar lelah untuk dijadikan bara
Malam ini kami penuh dahaga
Berbaring mengecap titik-titik air langit yang berjelaga
Biarkan kami habiskan malam
Bersama pekat dan bintang bintang bisu
Biarkan juga kami bercengkrama dengan alam
Bersama lagu dan pohon-pohon yang tertidur lesu
(terasa angin jilati kuping-kuping kami)
Sementara kami bersedih
Mengingat kawan mati oleh sepasang mata burung
(langit tak lagi bersedih tapi malah meludahi kami)
Sunyi seketika berbunyi
Langkah-langkah kaki berlari
Berjejal tubuh-tubuh basah dalam tenda kami
(Malam tak restui kami mengingat kawan-kawan yang telah mati.Langit masih meludah, api masih menyala, pohon-pohon masih tertidur dan sepasang mata burung masih terjaga)
Wizurai,
Ruang 1/
Kamar ini tak pernah senyaman dulu
Tempat aku dan diriku menganyam bulu
Bulu mimpi yang kami rangkai jadi awan
Satu di kasur. Satu digulung jadi bantalan
(kini kami hanya menyulam awan kelam)
Ruang 2/
aku dan diriku tak pernah seakrab dulu
memamah sajak yang bercampur batu
batu angan yang kami pahat jadi bulan
satu di pintu. Satu di atas meja makan
(dan kini kami hanya memahat batu nisan)
Ruang 3/
Tempat bersuci dan menikmati hujan
Semadi meluruh—lelah dan kotoran
Tempat kami saling jujur menyapa
Saat berkumur, berkaca jarak sedepa
(tapi kini air mata kami yang jadi mata air)
Ruang 4/
Tempat kami mengenal DIA. Lima sehari
tempat yang sudah lama tak kami kunjungi
bukan karena telah mengenalNYA
atau bosan tak bisa mengenalNYA
(tapi kami sibuk saling mengenal diri sendiri)
Ruang 5/
Sebuah ruang, dimana ruang—kami berada
Tempat dimana kami mulai saling tak kenal
Siapa aku?
Siapa diriku?




