Sang Murid Pada Gurunya

Posted: Thursday, July 8, 2010 | Ditulis oleh saha | Labels: 6 comments
Tok tok tok...

Assalamualaikum,

Mau ikut belajar 'membajak sajak' di sini
Absen dulu sama tuan guru : Saya hadir!


(tuan guru berkata)
silahkan duduk, bawa pena dan kertas sendiri.
simpan 'ingatan sajakmu' di atas meja
: Kita mulai dari nol lagi ya...

Lalu itu kuping, mata, hidung dan tangan milik siapa?
kalau punyamu silahkan pakai pada tempatnya
tapi kalau punya orang lain
: Pintu keluar kelas sebelah sana

Perlukah kutulis sebuah sajak untuk perkenalan, tuan guru?
"Tidak perlu! Sebutkan saja namamu"
Kenapa?
"Karena sebuah sajak akan dikenali dari kebesaran nama penyairnya"

Oh, pantas kulihat banyak orang memamah sajak dari seorang penyair
besar dengan seteguk tafsir dan sesuap ma'rifat, lalu berkata
:Enak, maknyus!

(padahal rasanya hambar dan tak cocok dengan lidah bangsa awam)
 
Tapi tuan guru
tolong ajarkan padaku cara menikmati rasa hambar itu
biar kuurai senyawa kata jadi pedas. manis. asin dan kecut di lidah
biar kubisa mengenali kebesaran nama dari berbagai hidangan sajaknya

 
=====================================================
Mangga bang HAH, kita mulai lagi pelajaran membajak, memilih bibit,
tandur, sampai panen sajak plus ilmu tafsirnya. Supaya kita bisa
menikmati buah sajak yang adiwarna dan banyakrasa...kalaupun terasa
hambar, setidaknya kita tau cara menikmatinya.

(ini mu bikin sajak apa bercocok tanam..hihihi)


====================================================
Sajak ngasal untuk perkenalan ketika gabung di milis nya Hasan Aspahani (salah satu Penyair favorit ane, ckckckck)

Baca tuntas...

INGIN MATI

Posted: Sunday, July 4, 2010 | Ditulis oleh saha | Labels: 8 comments
Senyap menyelinap dalam sunyi yang bersembunyi. Do’a - do’a terdengar; HINGAR! BINGAR! Mampu membuat jagad ini bergetar. Sahutan binatang malam diredam di perut bumi. Cahaya lilin melukis bayang-bayang yang bersimpuh; malu, rapuh, mampu membuat dinding semesta ini runtuh. Binalnya rembulan menunggu pagi, tak sabarnya bintang menunggu mentari menyulam langit. Hentikanlah waktu; aku ingin mati! Aku ingin mati!. Satu-satu suara menghilang saat kata bukan lagi do’a. Satu-satu asa tertinggal saat bahagia bukan lagi dunia. Satu-satu pintu hati tertutup saat jiwa teraniaya. Satu-satu sendi terasa kaku saat hidup-ikhlas tak lagi bersenyawa. Ahhh...sudahlah, biarkan malam ini kembali senyap, sepi. Percuma hingar dan bingar kalau hidupku adalah ‘kata hati’. Ketika ingin mati; aku mati!.

repost;
============================================
Editan dari puisi 'ingin mati'

Wizurai,

Baca tuntas...

Ruang Aku dan Diriku

Posted: Friday, July 2, 2010 | Ditulis oleh saha | Labels: 5 comments
repost;


Ruang 1/
Kamar ini tak pernah senyaman dulu
Tempat aku dan diriku menganyam bulu
Bulu mimpi yang kami rangkai jadi awan
Satu di kasur. Satu digulung jadi bantalan
(kini kami hanya menyulam awan kelam)

Ruang 2/
aku dan diriku tak pernah seakrab dulu
memamah sajak yang bercampur batu
batu angan yang kami pahat jadi bulan
satu di pintu. Satu di atas meja makan
(dan kini kami hanya memahat batu nisan)

Ruang 3/
Tempat bersuci dan menikmati hujan
Semadi meluruh—lelah dan kotoran
Tempat kami saling jujur menyapa
Saat berkumur, berkaca jarak sedepa
(tapi kini air mata kami yang jadi mata air)

Ruang 4/
Tempat kami mengenal DIA. Lima sehari
tempat yang sudah lama tak kami kunjungi
bukan karena telah mengenalNYA
atau bosan tak bisa mengenalNYA
(tapi kami sibuk saling mengenal diri sendiri)

Ruang 5/
Sebuah ruang, dimana ruang—kami berada
Tempat dimana kami mulai saling tak kenal
Siapa aku?
Siapa diriku?

Baca tuntas...

Untuk Mimpi yang Kami Khianati

Posted: Tuesday, June 29, 2010 | Ditulis oleh saha | Labels: 7 comments
Sebatang rokok yang sudah menjadi berhala tak habis kami cumbui di malam itu. Pun nyanyian sekelompok anak muda dan gitar sumbangya berlomba mendengung di kedua telinga. Sabda-sabda alam malam tak kalah menusuk seperti panah hujan yang sejak maghrib menancap di ubun-ubun. Kami ingat mimpi-mimpi. Yang semakin hari semakin panjang tak berujung.

Secangkir kopi pahit yang sudah menjadi dewa tak lekas kami teguk malam itu. Pun gerung-gerung mesin dan decit rodanya merambat dengan angin membelai tubuh lembab kami. Sepasang celepuk terbang kian kemari menembus awan yang tak kalah legam dengan warna langit. Kami ingat mimpi-mimpi. Yang semakin hari semakin tertinggal di telaga bayang.

Berhala. Nyanyian anak muda. Dewa. Sepasang celepuk.

Membawa kami dalam temaram mimpi-mimpi yang telah kami khianati.

Dan di sini, maki kami kian menjadi pada tuhan-tuhan kami.

Wizurai

Baca tuntas...

Pseudoreality

Posted: Saturday, June 26, 2010 | Ditulis oleh saha | Labels: 2 comments
(Intro sebuah kelahiran)

DUARR!
Terdengar sebuah letusan yang entah bunyi senjata atau petasan di telinga kami yang sebelah kanan. Sebentar tuli, sebentar berdengung, sebentar clingak-clinguk, sebentar bingung.

“Apa ini?”
“Bunyi apa yang bikin kuping kanan kami serasa tuli seperti ini?”

“Hihihihii…” Lalu terdengar tawa—ringkik meninggi, lengking—kuntilanak atau centring manik di telinga kami sebelah kiri.
Angin dingin terasa menggerayangi sekujur tubuh, kami bergidik ngeri. “A—apa pula itu?” Tanya kami saling berbisik—terbata lalu terbenam dalam ketakutan sendiri. Moncong bulan yang sedang dinikmati pun seketika berubah jadi penampakan serigala yang sedang melolong.

“Aauuuuuu…”

“HWARAKADAH!” Maki kami atas segala kengerian ini.
“Hihihihi…hihihiiii…” Terdengar lagi tawa ringkik semakin meninggi kali ini, dan…d—dan semakin mendekat di telinga sebelah kiri. Nadanya kian menusuk. Inilah kali pertamanya kami merasa ingin tuli, tuli di telinga sebelah kiri. Berharap tawa ringkik itu memecahkan genderang telinga ini sampai congean. Biarlah kami tak lagi bisa mendengar petuah kiyai Majnun, kami tak ingin lagi mendengar tawa—ringkik yang menyebabkan segala kengerian ini, dan biarlah kami congean. Tapi dengan sisa keberanian yang sebesar upil akhirnya kami pun berontak. Tersadar tak bisa tinggal diam dalam diam yang tak bisa tertinggal.

“harus BERANI!!” Teriak kami walau masih di dalam bathin karena takut terdengar oleh aden-aden (baca = Dedemit) yang akan marah mengamuk karena merasa tertantang. Dan kami pun menoleh ke arah sumber tawa di dekat telinga kiri.

“Astagfirullahhaladzim…”

“Subhanallah, Allahu akbar…”

Se-tubuh ini terasa beku disuguhi pemandangan yang maha dahsyat tak terkira seperti itu. Alangkah terkejut kami melihatnya, terkejut sembari terus mengucap puji-pujian pada Sang Hyangwidi yang hanya bisa terucap ketika kami dalam keadaan tak sadar saja sebenarnya.

“Mahluk apa kau ini? Begitu cantik memesona, indah, rambutmu yang panjang tergerai bagai gerimis turun dari nirwana. Ohh mungkin ini berlebihan, t—tapi ini…akh sangat mengagumkan! Adakah kau ini seorang bidadari?”
“Katakan, siapa namamu?” Tanya kami padanya.

“Aku?”
“Ya kamu!”

“Aku adalah syetan.”
“Syetan? Hohoho kami tak percaya.”

“Jelas-jelas kau seorang perempuan, ya kau seorang perempuan dan kau seorang manusia, manusia seperti kami. Janganlah kau men-syetankan manusia!” Jelas kami padanya.
“Heh, tidak! Aku tidak men-syetankan manusia tapi kalianlah yang me-manusiakan syetan!” Jawabnya dingin tanpa memandang sedikitpun ke arah kami.

“Kami masih tak percaya! Kalau begitu tampakanlah wujud aslimu kepada kami.”
“wujud asli ku ya seperti ini, seperti yang kalian lihat sendiri dengan mata melotot yang hampir keluar dari mangkuknya!”

“Haha..kalau begitu kau memang manusia, bukan syetan seperti yang kau bilang barusan.” Timpal kami dengan penuh kegirangan dan kemenangan seperti sekelompok nelayan yg baru menemukan seekor putri duyung sekarat di bibir pantai dan siap untuk dijadikan ikan asin.

“Jadi kau yang membuat tawa—ringkik nan mengerikan tadi! Kami kira siapa, tapi apa kau juga yg membuat suara ledakan nan menulikan kuping kanan kami tadi?” Tanya kami keheranan.
“Iya itu perbuatanku.”

 "Kenapa?"
“Karena telinga kanan kalian menguping sesuatu yang kubisikan untuk telinga kiri kalian, jadi kuputuskan saja membuatnya tuli untuk sementara waktu.”

“Hhh… Siapa sebenarnya kau ini?”, tanya kami lagi dengan sedikit kesal.
“Sudah kubilang aku syetan tapi aku juga manusia.”

“Yang benar yang mana?”
“Yang benar, aku ini manusia tapi aku juga syetan.” Jawabnya enteng.

“Kau ini aneh! Bikin bingung kami saja.”
“Tak usah bingung, tak pernahkah kalian mendengar firman Allah yang satu ini?” Dia menarik napas panjang lalu membisikan sebuah ayat Al quran di muka telinga kiri kami.

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)”*

“Nah aku adalah syetan dari jenis manusia.” Tambahnya singkat.

Kami termenung, menebak-nebak apa maksud yang hendak ia sampaikan kepada kami. Apakah dengan mengakunya dia seorang syetan yang lalu membisikan sesuatu pada diri kami, maka otomatis kami termasuk golongannya: golongan syetan.

“Hei kau ini manusia tapi kenapa begitu bangga dengan menyebut dirimu sebagai syetan?” Tanya kami dengan rasa sedikit kesal.
“Bukan merasa bangga menjadi syetan.”

“Lantas?!”
“Aku hanya terlalu malu untuk merasa diri sebagai manusia.” Jawabnya pelan.

“Lalu apakah kami termasuk golonganmu karena kau telah membisikan sesuatu di telinga kiri ini?”
“Tidak! Tidak, selama bisikanku tidak menguasaimu.”

“Apa maksudmu?”
“Sini! Mana telinga kirimu, akan kubisikan satu ayat lagi dalam Al quran.” Kali ini dia menarik kuping kiri kami dan membisikan kalimat yang cukup asing bagi kami.

Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan”**

“Ah apakah bisikanmu telah menguasai kami?” Lagi-lagi kami bertanya dengan penuh kecemasan.
“Untuk yang satu itu, kalian tanyalah pada diri kalian sendiri!”
“Maaf, sudah waktunya aku pergi! Masih banyak telinga kanan yang harus aku tulikan dan masih banyak pula telinga kiri yang harus aku bisiki.” Dia berdiri kemudian berlalu meninggalkan kami dengan penuh kesemuan. Begitu saja.

EDAN, dasar syetan yang aneh. Mana ada orang yang mengaku syetan bisa lebih beragama dari kami semua yang merasa manusia. Tapi kenapa kami begitu cemas tadi. Apa yang kami cemaskan? Apakah karena kami merasa telah menjadi syetan tapi tak kunjung mengikrarkan diri sebagai syetan? Atau karena kami ingin dianggap sebagai manusia tapi masih ingin tetap berkelakuan syetan? Lantas apa bedanya! Ahh semua ini semu, memang-memang semu. Daging secuil dalam dada kami kini ikut nimbrung berbicara.

“Sudah! Sudah! Tak perlu kalian ributkan soal itu!”
“Ikuti saja apa kataku, dan berbuatlah semau kataku dan kalian akan merasa bahagia”, tambahnya lagi.

“Hey siapa kau?”
“Aku? Aku tuanmu, dari dulu sampai sekarang aku adalah tuanmu, tuan kalian! Tuan yang tumbuh dalam dada kalian masing-masing.”

“Ohhh…” Jawab kami hampir bersamaan. Terdiam sejenak lalu kami pun mulai saling berbisik.



SELESAI
Wizurai...

==========================================================
Catatan :
*= Surat Al An’am 112
**= Surat Al Mujadilah 19

Baca tuntas...

Pada Malam

Posted: Friday, June 25, 2010 | Ditulis oleh saha | Labels: 4 comments
Pada akhirnya dirimu akan tetap menjadi malam
dan aku menghitung setakar embun di punggung daun
sendiri dengan samar bulan menjadi mimpi-mimpi

Sungguh kita tak pernah bisa bersatu
mengubur kenangan tentang siang-malam yang berkejaran
tentang gemerisik rambut pohon yang dibisiki angin-angin


dada kita telah penuh sesak dengan ikrar cinta
namun tetap wizurai terperangkap di lazuardi
dan alqamar yang merindu di balik burqa-mega

Pada akhirnya dirimu akan tetap menjadi malam
sedangkan aku adalah siang. Dimana
;tak ada takdir untuk kita bisa menyatu

wizurai

Baca tuntas...
 
Mau belajar online php dan mysql untuk bikin web? Gabung aja di sini, ada kelas gratis buat sobat