Untuk Hamzah

Posted: Tuesday, December 2, 2008 | Ditulis oleh saha | Labels:


Di sini. Kami menyambut kuncup bunga fajar di balik awan abu. Membakar lereng-lereng hitam gunung menjadi merah keemasan. Di sini--di balik kaca kumal dengan aroma embun menusuk paru, dengan geliat angin menyusup di antara lipatan baju dan kulit-kulit lembab : kami saling memeluk.

Di sini. Dalam keremangan kamar sempit 3x3 meter--hanya cukup buat kami berbaring dan menyisakan sedikit ruang hampa untuk menidurkan mimpi yang terkejap-kejap dalam rerongga dada. Do'a-do'a yang kami gantung di atas atap, berubah menjadi benih bunga yang harus kami tanam di halaman rumah : kami masih saling memeluk.



Di sana. Di balik jendela yang lain. Bau rumput dan bukit-bukit bergelombang. Naikturun bersama gerai daun pohon aras di antara pagi dan malam. di lereng bukit tempat kami melahirkan banyak bunga ungu--yang benihnya kami beli dengan seribu leluka. Lalu kami tanam dengan segenggam tanah harum dari negeri seberang : Sebuah negeri yang banyak ditumbuhi jembatan kayu antara langit dan bumi, di mana air hujannya adalah perhiasan lalu mengalir ke hilir seperti batu intan meleleh.

Di sana. Di halaman rumah kami yang berbukit-bukit. kami merangkak setiap pagi menuju lereng berbatu. Mengubur do'a-do'a yang telah menjadi benih. Benih bunga ungu serupa anyelir. Kami tak mampu melahirkan banyak bunga warnawarni. Tanah kami tanah kering tapi tak sekering negerimu : sebuah negeri dengan bukit-bukit pasir, di mana matahari menatap dengan sorot mata yang sangat tajam.

Wahai engkau, lelaki dengan tanda bulu burung Na'amah di dada. Kami persembahkankan setangkai bunga ungu setiap pagi untuk menemanimu di negeri para bidadari. Dengan segala kesederhanaan dan rahim yang penuh leluka : kami saling memeluk dan merindu sosok dirimu sebagai pemimpin para syuhada.

Untukmu Hamzah.


wizurai,



3 comments:

  1. Brigadista said...
  2. waahhh daleem seklai maknanya,..

  3. tanto said...
  4. aku suka membacanya, mengalir seperti air. salut deh
    ingin rasanya mempublikasikannya di koranku, jika boleh. salam

  5. Lis Indra said...
  6. "Di sini. Kami menyambut kuncup bunga fajar di balik awan abu. Membakar lereng-lereng hitam gunung menjadi merah keemasan."


    Kata-kata itu bangkitkan imajery yang lama tak hadir dalam anganku.



Post a Comment

 
Mau belajar online php dan mysql untuk bikin web? Gabung aja di sini, ada kelas gratis buat sobat