Kesekian Sepi

Posted: Thursday, June 17, 2010 | Ditulis oleh saha | Labels: 10 comments
Di sebatang kayu yang kuyu
menulis kenang dalam kening
bisu sendiri berteman sondari

di sini merangkul kaki setengah kaku
ingin aku menutup mata sampai mati
bila terjaga tak ada sapa di dalam sepi

:dipeluk leluka seorang lelaki

Baca tuntas...

Kabar Duka

Posted: Thursday, April 15, 2010 | Ditulis oleh saha | Labels: 0 comments
Maaf,
aku membisikanya di bibirmu

:kabar yang kubawa pagi ini
adalah luka yang menghias kupingmu
dua tahun lalu menjadi
anting-anting

maaf,
aku membisikannya di dadamu

:biar langsung menusuk jantung
tanpa membuatmu terlebih
tuli.buta.bisu seperti
mayat-hidup

maaf,
karena luka ini akan membekas
di bibir dan dadamu
tapi tak lagi menjadi anting-anting
di kupingmu

Baca tuntas...

Belajar Online Membuat Website

Posted: Sunday, April 11, 2010 | Ditulis oleh saha | Labels: 0 comments
Dah lama gak ngupdate blog...

Sibuk ngurusin situs kursus nih, Oya buat kawan-kawan yang tertarik untuk belajar membuat website berbasis php dan html secara online, datang saja ke 'Kursus Mandiri' yang beralamat di http://kursusMandiri.com. Di sana, anda akan belajar sambil praktek. Sistem yang dibuat sudah otomatis dan online sehingga anda bisa belajar kapan saja.

Produk Kursus Mandiri bukan lah produk digital seperti ebook, tetapi melainkan sebuah kelas online yang terbuka 24 jam setiap harinya. Bagi anda yang sibuk tetapi ingin belajar, kursusMandiri.com adalah salah satu solusi yang tepat untuk anda.

Oke, kalau ingin lebih jelas lagi, langsung saja menuju ke TKP ya
klik di sini

Baca tuntas...

Potret Mimpi

Posted: Thursday, February 18, 2010 | Ditulis oleh saha | Labels: 0 comments
Kuharap warna hati yang pekat di siang hari pernikahan. Sementara memudar saat kau pakaikan kebaya putih-putih untuk menyongsong senja dan malam pertama yang hitam sedikit legam dari warna hatimu. Kuharap potret-potret mimpi yang telah rapih kita buat album sejak saat pertama kita bertemu tak rusak dimakan usang dan ego-ego yang membatasi setiap lembaran album itu. Kelak, saat hidup kita semakin tenggelam dihanyutkan nilai-nilai peradaban : hidup untuk bekerja dan bekerja untuk hidup.
Aku ingin kau tetap menemaniku membangun rumah panggung di hamparan rumput. Yang dindingnya kita penuhi dengan tempelan potret-potret mimpi kita serta koran-koran bekas yang banyak memuat berita : ketidakadilan, pembunuhan, pemerkosaan, demonstrasi mahasiswa dan keserakahan para penguasa yang ingin disejajarkan dengan Tuhan.
Aku yakin, orang-orang yang hidup di dalam dinding-dinding tinggi, halaman luas penuh timbunan emas akan merasa iri kepada kita. Karena rumah kita hanya rumah kecil dari bilik tetapi penuh warna dan begitu hidup. Sementara mereka tinggal dalam dinding-dinding putihpucat dan menyisakan satu tambahan warna saja: keemasan. Di saat mereka sibuk untuk mengenalkan anak-anaknya pada warna emas, kita tak akan letih mengajari anak-anak kita untuk bersujud dan mengenal siapa penciptanya. Di saat mereka khawatir pada sosok malam karena semua satpamnya membolos tidak masuk kerja. Kita akan tertidur pulas karena memiliki penjaga yang tak pernah ambil cuti siang ataupun malam. Meski angin malam curi-curi masuk lewat lubang bilik yang tak tertutupi mimpi maupun koran akan membuat sakit: semoga saja kita tak mati muda dibuatnya.
Aku tak akan menyalahkanmu jika suatu saat kau menyesal karena menikahi lelaki pengangguran—untuk itu kau buat pekat hatimu di hari pernikahan kita. Hanya saja jangan putus punya mimpi dan jangan takut tak ada ruang lagi untuk menempelkan mimpi-mimpi itu. Kita masih miliki dinding langit yang luas yang tak akan habis meski berjuta-juta orang punya jutaan mimpi : semoga tuhan tak marah pada kita yang banyak mimpi sampai berserakan di halaman rumah.
Kuharap kau setuju hidup seperti ini : Setiap pagi kita buat potret-potret mimpi baru. Setiap sore kita susun batang-batang do’a menjadi tangga dan setiap tengah malam kita ke langit menjejak anak tangga yang tak terhitung jumlahnya untuk menempelkan mimpi-mimpi kita di dinding langit yang tak terhitung pula jumlahnya. Lalu kita tertidur pulas di ketiak-ketiak bintang.

wizurai

Baca tuntas...

Untuk Hamzah

Posted: Tuesday, December 2, 2008 | Ditulis oleh saha | Labels: 3 comments


Di sini. Kami menyambut kuncup bunga fajar di balik awan abu. Membakar lereng-lereng hitam gunung menjadi merah keemasan. Di sini--di balik kaca kumal dengan aroma embun menusuk paru, dengan geliat angin menyusup di antara lipatan baju dan kulit-kulit lembab : kami saling memeluk.

Di sini. Dalam keremangan kamar sempit 3x3 meter--hanya cukup buat kami berbaring dan menyisakan sedikit ruang hampa untuk menidurkan mimpi yang terkejap-kejap dalam rerongga dada. Do'a-do'a yang kami gantung di atas atap, berubah menjadi benih bunga yang harus kami tanam di halaman rumah : kami masih saling memeluk.



Baca tuntas...

Pemimpin Oh Pemimpin

Posted: Monday, November 10, 2008 | Ditulis oleh saha | Labels: 2 comments


Selembar samak rumput kami hampar
tempat kami dirunduk lagi tergelepar
selembar kain beluderu kami bentang
tempat kau telanjang lagi terlentang

:mari saling berbuka aurat

Kami usap dadamu dengan beribu rasa cemas
di sana tertulis kemegahan dengan tinta emas
dan rabalah dada kami tanpa kau remas
di sana tertulis harap dengan segala jejas

:mari saling membaca di dada

Kau baca punya kami tanpa hayat
kami baca punyamu dengan ma'rifat

Wizurai,



Baca tuntas...
 
Mau belajar online php dan mysql untuk bikin web? Gabung aja di sini, ada kelas gratis buat sobat