Showing posts with label Puisi (Mazhab cinta). Show all posts
Showing posts with label Puisi (Mazhab cinta). Show all posts

Pada Malam

Posted: Friday, June 25, 2010 | Ditulis oleh saha | Labels: 4 comments
Pada akhirnya dirimu akan tetap menjadi malam
dan aku menghitung setakar embun di punggung daun
sendiri dengan samar bulan menjadi mimpi-mimpi

Sungguh kita tak pernah bisa bersatu
mengubur kenangan tentang siang-malam yang berkejaran
tentang gemerisik rambut pohon yang dibisiki angin-angin


dada kita telah penuh sesak dengan ikrar cinta
namun tetap wizurai terperangkap di lazuardi
dan alqamar yang merindu di balik burqa-mega

Pada akhirnya dirimu akan tetap menjadi malam
sedangkan aku adalah siang. Dimana
;tak ada takdir untuk kita bisa menyatu

wizurai

Baca tuntas...

Potret Mimpi

Posted: Thursday, February 18, 2010 | Ditulis oleh saha | Labels: 0 comments
Kuharap warna hati yang pekat di siang hari pernikahan. Sementara memudar saat kau pakaikan kebaya putih-putih untuk menyongsong senja dan malam pertama yang hitam sedikit legam dari warna hatimu. Kuharap potret-potret mimpi yang telah rapih kita buat album sejak saat pertama kita bertemu tak rusak dimakan usang dan ego-ego yang membatasi setiap lembaran album itu. Kelak, saat hidup kita semakin tenggelam dihanyutkan nilai-nilai peradaban : hidup untuk bekerja dan bekerja untuk hidup.
Aku ingin kau tetap menemaniku membangun rumah panggung di hamparan rumput. Yang dindingnya kita penuhi dengan tempelan potret-potret mimpi kita serta koran-koran bekas yang banyak memuat berita : ketidakadilan, pembunuhan, pemerkosaan, demonstrasi mahasiswa dan keserakahan para penguasa yang ingin disejajarkan dengan Tuhan.
Aku yakin, orang-orang yang hidup di dalam dinding-dinding tinggi, halaman luas penuh timbunan emas akan merasa iri kepada kita. Karena rumah kita hanya rumah kecil dari bilik tetapi penuh warna dan begitu hidup. Sementara mereka tinggal dalam dinding-dinding putihpucat dan menyisakan satu tambahan warna saja: keemasan. Di saat mereka sibuk untuk mengenalkan anak-anaknya pada warna emas, kita tak akan letih mengajari anak-anak kita untuk bersujud dan mengenal siapa penciptanya. Di saat mereka khawatir pada sosok malam karena semua satpamnya membolos tidak masuk kerja. Kita akan tertidur pulas karena memiliki penjaga yang tak pernah ambil cuti siang ataupun malam. Meski angin malam curi-curi masuk lewat lubang bilik yang tak tertutupi mimpi maupun koran akan membuat sakit: semoga saja kita tak mati muda dibuatnya.
Aku tak akan menyalahkanmu jika suatu saat kau menyesal karena menikahi lelaki pengangguran—untuk itu kau buat pekat hatimu di hari pernikahan kita. Hanya saja jangan putus punya mimpi dan jangan takut tak ada ruang lagi untuk menempelkan mimpi-mimpi itu. Kita masih miliki dinding langit yang luas yang tak akan habis meski berjuta-juta orang punya jutaan mimpi : semoga tuhan tak marah pada kita yang banyak mimpi sampai berserakan di halaman rumah.
Kuharap kau setuju hidup seperti ini : Setiap pagi kita buat potret-potret mimpi baru. Setiap sore kita susun batang-batang do’a menjadi tangga dan setiap tengah malam kita ke langit menjejak anak tangga yang tak terhitung jumlahnya untuk menempelkan mimpi-mimpi kita di dinding langit yang tak terhitung pula jumlahnya. Lalu kita tertidur pulas di ketiak-ketiak bintang.

wizurai

Baca tuntas...

Untuk Hamzah

Posted: Tuesday, December 2, 2008 | Ditulis oleh saha | Labels: 3 comments


Di sini. Kami menyambut kuncup bunga fajar di balik awan abu. Membakar lereng-lereng hitam gunung menjadi merah keemasan. Di sini--di balik kaca kumal dengan aroma embun menusuk paru, dengan geliat angin menyusup di antara lipatan baju dan kulit-kulit lembab : kami saling memeluk.

Di sini. Dalam keremangan kamar sempit 3x3 meter--hanya cukup buat kami berbaring dan menyisakan sedikit ruang hampa untuk menidurkan mimpi yang terkejap-kejap dalam rerongga dada. Do'a-do'a yang kami gantung di atas atap, berubah menjadi benih bunga yang harus kami tanam di halaman rumah : kami masih saling memeluk.



Baca tuntas...

Musim Unggas

Posted: Sunday, August 24, 2008 | Ditulis oleh saha | Labels: 4 comments

Layla,
Di selasar sempit surau ini
Ingat janji kita menanti musim unggas
Berbicara tentang senja
Berbicara tentang apa saja

Layla
Dikudung redup lampu-lampu merkuri
ingat menyulam rasa yang sebentar meranggas
saat langit kian bermuram durja
saat lazuardi tak lagi memanja

Masihkah tersimpan hiasan yang kuberi padamu
Sebuah sajak ‘Aku dan Pancaroba’
Tentang ‘Mazhab Cinta’
Tentang ‘Anyelir dan Tebing Batu’
Ya..semua kutulis dengan jejas-lebam dalam dada

Ingat bila lampu-lampu di gubuk kita serupa sampu
Mungkin kita berdua tak saling meraba
Membisu habis semua kata
Dan hati-hati kita tak lagi bersatu
Ya..ada dan tiadanya cinta tak lagi terasa berbeda

Tapi,
Tetapkah kau sudi melihat musim unggas sampai senja?

Wizurai,





Baca tuntas...

Jam Dinding

Posted: Monday, July 28, 2008 | Ditulis oleh saha | Labels: 0 comments

Jam satu
jam dua
satu jam terbenam dibeban waktu
dua jam menghisap daun-daun syurga



melihat rupa
jelajahi kolong-kolong buram
melihat malam
jejaki laki-laki bertapa



dua jam. Antara
jam satu
jam dua
melihat mahar jadi batu-batu jingga



untuk perempuan terasing
satu, tiga jam yang lalu
bukanlah terasing;



("mimpiku layang-layang
tak bisa terbang, janganlah kau terbang
kejar saja aku pada bayang")



biru-biru langit tak sebiru-biru kakiku
habis, habis waktu
bukan satu, tiga jam
kukejar bayang layang hitam





Baca tuntas...

Tak Jelas kutunggu ‘nanti’

Posted: Tuesday, May 6, 2008 | Ditulis oleh saha | Labels: 4 comments

Kutunggu sapa ‘nanti’
Yang tak ada lagi di sini
Merambat kekal kelabu hari
Kutunggu siapa saja yg bernyanyi
Ujung senja redam tangis mentari

Tak lagi lagi puisi tertulis
Berbagi tak lagi lagi terasa terbuang
Sudah di akhir sudah aku terlahir
Sia sia menunggu ‘nanti’ menyapa
Terang terang tak ada lagi di sini

Seru esok buaikan semua ‘cita cita’
Yang tak peka dibisiki malaikat
Merayu indah suramnya tempat bertapa
Kuseru siapa yang tak mau menyapa
Ujung masa resapi keluhan rembulan

Tak main main kulihat yang menangis
Besedih tak main main terus terulang
Susah dipikir susah hidup fakir
Sisa sisa semua ‘cita’ tak terpeta
Memang memang tak ada lagi di mimpi





Baca tuntas...

Sendiri

Posted: Saturday, April 26, 2008 | Ditulis oleh saha | Labels: 1 comments

Seperti titik cahaya
di punggung bintang
seperti tak berdaya
di ambang pulang



sedikit gusar kutuju damba
sedikit ragu melangkah dan meraba



seperti bisik angin
di ujung harap
seperti tak ingin
diterangi, hati yang gelap



tak banyak asa untuk kuraih mimpi
tak banyak rasa untuk terbakar api



pergi tak berarti
untuk cita
dan gegap nya dalam kata
semua mati



diam pun tak berarti
untuk cinta
dan pekak nya dalam cerita
semua nisbi



seperti berdiri di atas karang
sendiri dengan hati yang berperang
seperti dirangkul badai di tengah laut
sediri bertanya pada nurani yg tak menyahut



seperti aku berdiri, berlari dan menyerah
sendiri......


Baca tuntas...

Dusta untukmu, Anyelir!

Posted: Sunday, April 20, 2008 | Ditulis oleh saha | Labels: 0 comments

ada takut
semu di antara kabut dingin
berkata pengecut
jemu dibuai dinginya angin

menusuk iga iga
dusta kuungkap pada telaga
berontak tenggelam ingin berlari
menyentuh sampai batas sukma bumi

diam mengakar lamunan senja
seribu tahun aku ingin mengejar
lepas...
dengan dusta

aku tak ingin menang
aku hanya ingin hidup ini terang
bebas...
walau berdusta

berteriak di antara langit mendung
agar kau berlari pergi
bintang bintang di atas padang
aku hanya anjing liar yang penuh maki

biarkan aku berdusta lagi
agar kau bisa berlari
walau langit mendung bertambah sepi
dan aku tetap anjing liar yang penuh maki

maaf,
maaf,
aku berdusta lagi
anyelir/


Baca tuntas...

Taman Anyelir

Posted: Tuesday, April 15, 2008 | Ditulis oleh saha | Labels: 1 comments

Di taman anyelir
Di gugus cakrawala
Bertebaran sari sari warna rintik hujan
Di sisi cermin perakmu
Di sela kerudung bunga bungamu
Adakah kulukis rasa ini

Andai daun daun jatuh
Awan awan turun ke bumi
Menuntun kabut
Lewati lembah lembah
Bagiku sama saja
Sama seperti anyelir


Baca tuntas...

Cinta Lokasi

Posted: Monday, April 14, 2008 | Ditulis oleh saha | Labels: 0 comments

Kubawa jantung ke gunung tertinggi
kudapati hati lain berkembang lagi
kubawa jantung dekati pusat bumi
kudapati hati lain yang bersemi

termangu di ujung jemu
dan jantungku tak pernah satu
warnai sudut hati hitam putih
dan jantungku slalu ingin memilih

kirimkan kata rindu padamu
kabarkan cinta yg kumiliki ini semu
tuliskan kata sayang di atas kertas tebal
yakinkan cinta yg kumiliki ini gombal

tapi kau tak pernah perduli
perduli bahwa cinta ini kubeli
tapi kau tak pernah mengerti
mengerti bahwa cinta ini tak banyak berarti



Baca tuntas...

Raja

Posted: Thursday, March 13, 2008 | Ditulis oleh saha | Labels: 4 comments

Seling pandang terhalang kecantikan
Debar dalam rongga matikan kemunafikan

Ya Allah bila hati ini adalah raja
Ingatkan diri untuk tak ingin dipuja

Terang langit berkudung awan awan putih
Debur ombak pantai bergulung tak pernah letih

Ya Allah bila hati ini adalah raja
Bukakan mataku untuk memandang kemuliaan saja

Jiwa kosong mencari tempat berlabuh
Genderang peperangan seketika ditabuh

Ya Allah bila hati ini adalah raja
Kuatkan iman dari nafsu sekeras baja

Wajah wajah teduh merayu rijal
Tumbuh keindahan, kubawa dosa saat ajal

Ya Allah bila hati ini adalah raja
Genggam niatku sampai tibanya senja

Indah bukanlah kemuliaan
Lebih seperti arak dalam cawan

Indah bukanlah nurani
Lebih seperti kapas kapas putih terbakar agni

Ya Allah,
Bila hati ini adalah raja
Pahatkan nama-Mu dalam mahkota
Berikan cinta pada apa yang kau beri
Bukan membuatku meminta apa yang dicintai

==================================================
Terinspirasi dari buku 'Menahan Pandangan Menjaga Hati' karya Abdul Azis al Ghazuli.

Abu hurairah berkata “hati adalah raja dan anggota tubuh adalah prajuritnya”.


Baca tuntas...

Pencuri Hati

Posted: Tuesday, March 4, 2008 | Ditulis oleh saha | Labels: 0 comments
saat berlalu gerimis di waktu pagi
denting gelas gelas kaca pada jantung yang berdetak
ada perempuan pergi
kupandangi dari balik kaca yang retak

saat beradu bising di telinga
dentang lonceng mengejek jantung yg masih berdetak
ada denting, detak dan dentang merangkai nada
kudengar pula dari balik kaca yang retak

kukenali wajah walau di balik burqa
ingin kujemput saja alqamar yang masih murka
yang pergi
di waktu pagi

kuingat asa terlelap dalam rasa
ingin kupungut saja bintang walau diri tersiksa
yang terdalam
di waktu malam

perempuan pergi
membawa hati

pikiran terdangkal
metafora yang ingin kusangkal


-Untuk yang telah pergi, mendadak-

Baca tuntas...

Wanna be

Posted: Saturday, February 16, 2008 | Ditulis oleh saha | Labels: 0 comments
I wanna stay upper u’r memories
Like a cascade,
Lead pure water in it
When u worry about losing all of tear

I wanna be a pillow
Hold up u’r neck
In restless dream u walked alone
Dreaming someone a bit more posh than me
Hoping somebody, and I knew that’s not me

I wanna be a dove
That fly strongly of hoping
Break the gloomy sky,
in heaven feast I’m watching u and bring it some
don’t stop hoping please

I wanna be a light
When the fierce voice of night blind u

Imagine I’m an exile
Just throw away spite ness n’ sadness to me
I’ll take it faraway
Climb the final mountain
And reach the whole victory of life
Don’t feel sad anymore please….

I want to make u happy forever
Without lie, envy and excessive things that can hide the real of me

I’m nothing and powerless to be u’r dream
Without sincerity in accepting
Everything……

Baca tuntas...

Booby

Posted: Friday, February 15, 2008 | Ditulis oleh saha | Labels: 0 comments
Riding the times on booby
crossing the seas, under
ways but a rudder
any further we're holding
take here u'r heart
into same dream seam
and touch me
coz i'm beside u.....

Baca tuntas...

TENTANG TUAH, TUANKU!

Posted: Monday, February 11, 2008 | Ditulis oleh saha | Labels: 0 comments
Serandau melayang pergi
Kabarkan siang
Menjauh pulau
Meluah napas
Bisik batara, bisikan di atas awan

Celupuk berjodoh
serap merambat malam
Iri hamba dirunduk antelas, tuan
Halus berwiru namun sunyi
Seperti tirai tutupi teralis besi

Dari malam malam yg membeku
Kemudian sampai wizurai mengetuk pintu
Malam telah pergi
Tetapi siang hamba tetap sendiri
Dan malam lebih sendiri lagi

Hingga tuah sebatas mudi
Turutkan cikar kemana hamba pergi
ketika hariku tiada berpenghuni
dalam antelas, tuah menemani
terima kasih tuan telah ikatkan tuah di seluruh badan


Baca tuntas...

JOGJA

Posted: | Ditulis oleh saha | Labels: 0 comments
dalam gegap borobudur
dalam gelagar ombak baron
gegar hati dalam bandusa

terperangkap mati
menyalin suara
dan terdengar di atas kalaf

ingin hati bersamamu…

aku bukan sepandri
jeraus menangkap serimpi
sepandri dengan serapah
jerih mendapatkannya
ingatu dalam mimpiku
bergelut dengan gerutu

mengapa kikir senyum di malam itu?

Baca tuntas...

GUNDAH

Posted: | Ditulis oleh saha | Labels: 1 comments
Beribu nuansa

Jingga di langit memecah rasa

Satu padu

kutinggalkan masa haru

riuh rendah suara hati

bercerita lagi tentang mimpi


aku rindu

tapi aku malu

aku sayang

tapi jiwa ini perang


Baca tuntas...

Redam

Posted: Wednesday, January 23, 2008 | Ditulis oleh saha | Labels: 0 comments
Pergi ke sudut kamar
Ada asa yng kian meredup
Di bawah lampu duduk
Satu persatu harapan itu kian meredup

Berjalan menyusuri satu dinding kamar
Kutemui angan yang hampir kugenggam
Angan…
Yang kini mulai dingin cair
Hingga jatuh menembus tanganku

Berlalu begitu saja
Semua berlalu
Dirimu yang tersisa
Takkan kubarkan meredup dalam hati
Meskipun hanya dalam hati

Baca tuntas...

album hijau

Posted: | Ditulis oleh saha | Labels: 0 comments
dari sederet potret yg aku kenang
ingin rasanya aku berucap,
beri aku satu tempat
dari bawah letak hidungmu

dari semerbak wangi yg aku cium
ingin rasanya aku bercerita,
bau rumput pagi yg baru dipotong
ingatkan aku pada dirimu

dari sepenggal kata kata yg aku dengar
ingin rasanya aku berterus terang
aku suka saat kau marah padaku
kemarin, kemarin dan kemarinnya lagi

dari warna warni yang aku lihat
ingin rasanya aku melukis
kuhias kamar ku dg hijau batu giok
tenangkan pikiranku yg sedang kacau

dari semua yg aku ingat tentangmu
tak satupun yg aku tak suka
bukan aku terlalu memuji
tapi memang itu kenyataannya

Baca tuntas...

Penghapus Karet Tua

Posted: | Ditulis oleh saha | Labels: 0 comments
Katanya aku punya cinta
Tapi kenapa membuat sedih
Kenapa aku merasa sendiri

Ingin lepas
Dari beban dan rasa

Setiap kali ku berjalan
Ada bayang yang tertinggal di tapak kaki
Tak ingin aku kembali
Kembali mengukur kaki diantaranya lagi

Aku hnaya ingin terus berjalan
Menuju danau
Ada anyelir
Air yang sejuk tuk membasuh mukaku
Salahkah aku
Karena memilih menghampiri anyelir
Daripada hidup dengan cinta itu

Baca tuntas...
 
Mau belajar online php dan mysql untuk bikin web? Gabung aja di sini, ada kelas gratis buat sobat